Kenapa harus liburan ke rumah eyang, sih?
Ini pasti idenya Mama, kalau tidak pasti ide Papa atau Kak Tita. Huh,
menyebalkan! Padahal liburan kali ini aku sudah berencana pergi ke Ancol bareng
Keke. Sekarang aku terpaksa harus
merelakannya dan mendekam di desa terpencil seperti ini. Apalagi di sana bakal
ada Jono, si cowok kerempeng dan pelit senyum itu, dan bakal dipastikan
liburanku kali ini akan berakhir dengan tragis, keluh Tata frustasi sambil
sesekali menjambak rambutnya yang pendek sebahu.
Sedikit malas,
gadis bertubuh gempal itu menyeret kakinya hingga sampai di depan pekarangan
belakang rumah Eyang Ratih, ibu dari papanya. Pekarangan seluas satu hektar itu
terletak di belakang kaki gunung yang menjulang tinggi di desa yang jauh dari
pusat kota Bandung.
“Ta, ayo ke
sini,” ujar Eyang Ratih melambaikan tangan pada Tata.
“Ya, Eyang,”
jawab Tata menganggukkan kepala dan menghampiri Eyang Ratih. Sejenak ia
terpesona menatap cowok yang sedang tersenyum ke arahnya. Senyuman manis yang
bakal dipastikan dapat melelehkan hati wanita mana saja, tidak terkecuali
dirinya. Gila! Senyumannya manis banget…
duh, senyuman Lee minho aja kalah kalau dibandingkan dengan senyuman cowok ini.
Eh, tapi tunggu dulu. Bukankah itu… Jono! Pekik Tata tertahan, tangannya
langsung repleks menutup mulut. Ia langsung membuang muka dan mencoba
menenangkan debaran jantungnya yang tidak beraturan.
“Jon, kamu ajak
Tata ke kebun, gih! Ambil beberapa buah-buahan di sana!” pinta Eyang Ratih.
“Yuk!” ajak Jono
lalu berjalan menghampiri Tata yang masih berkutat dengan debaran jantungnya.
Gadis itu dengan patuh mengikuti Jono dari belakang.
“Jo..no..” ucap
Tata terbata-bata, “Elo kok…”
“Beda,” jawab
Jono cepat.
“Iya,” balas
Tata lirih hampir tak terdengar. Dan Lagi-lagi cowok itu tersenyum lebar ke
arahnya. “Kok sekarang lo lebih sering tersenyum.”
“Soalnya cewek
yang gue suka pernah bilang, kalau dia paling suka dengan cowok yang murah
senyum.”
“Owh… begitu.
Baguslah, lo keliatan lebih cakepan sedikit,” puji Tata malu-malu.
“Lo masih ingat’kan
kata-kata yang lo ucapkan tahun kemaren?” bisik Jono tepat di telinga Tata.
Tubuh gadis itu tiba-tiba menegang, dan mulutnya menganga lebar.
“Tunggu… jangan
bilang cewek itu?”
Jono tersenyum
manis lalu melenggang pergi meninggalkan Tata yang masih berkutat dengan seribu
tanda tanya atas pernyataan cowok itu barusan….[end]
0 komentar:
Posting Komentar