Rabu, 06 Agustus 2014

Smile Love



 Kenapa harus liburan ke rumah eyang, sih? Ini pasti idenya Mama, kalau tidak pasti ide Papa atau Kak Tita. Huh, menyebalkan! Padahal liburan kali ini aku sudah berencana pergi ke Ancol bareng Keke.  Sekarang aku terpaksa harus merelakannya dan mendekam di desa terpencil seperti ini. Apalagi di sana bakal ada Jono, si cowok kerempeng dan pelit senyum itu, dan bakal dipastikan liburanku kali ini akan berakhir dengan tragis, keluh Tata frustasi sambil sesekali menjambak rambutnya yang pendek sebahu.
Sedikit malas, gadis bertubuh gempal itu menyeret kakinya hingga sampai di depan pekarangan belakang rumah Eyang Ratih, ibu dari papanya. Pekarangan seluas satu hektar itu terletak di belakang kaki gunung yang menjulang tinggi di desa yang jauh dari pusat kota Bandung.
“Ta, ayo ke sini,” ujar Eyang Ratih melambaikan tangan pada Tata.
“Ya, Eyang,” jawab Tata menganggukkan kepala dan menghampiri Eyang Ratih. Sejenak ia terpesona menatap cowok yang sedang tersenyum ke arahnya. Senyuman manis yang bakal dipastikan dapat melelehkan hati wanita mana saja, tidak terkecuali dirinya. Gila! Senyumannya manis banget… duh, senyuman Lee minho aja kalah kalau dibandingkan dengan senyuman cowok ini. Eh, tapi tunggu dulu. Bukankah itu… Jono! Pekik Tata tertahan, tangannya langsung repleks menutup mulut. Ia langsung membuang muka dan mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak beraturan.
“Jon, kamu ajak Tata ke kebun, gih! Ambil beberapa buah-buahan di sana!” pinta Eyang Ratih.
“Yuk!” ajak Jono lalu berjalan menghampiri Tata yang masih berkutat dengan debaran jantungnya. Gadis itu dengan patuh mengikuti Jono dari belakang.
“Jo..no..” ucap Tata terbata-bata, “Elo kok…”
“Beda,” jawab Jono cepat.
“Iya,” balas Tata lirih hampir tak terdengar. Dan Lagi-lagi cowok itu tersenyum lebar ke arahnya. “Kok sekarang lo lebih sering tersenyum.”
“Soalnya cewek yang gue suka pernah bilang, kalau dia paling suka dengan cowok yang murah senyum.”
“Owh… begitu. Baguslah, lo keliatan lebih cakepan sedikit,” puji Tata malu-malu.
“Lo masih ingat’kan kata-kata yang lo ucapkan tahun kemaren?” bisik Jono tepat di telinga Tata. Tubuh gadis itu tiba-tiba menegang, dan mulutnya menganga lebar.
“Tunggu… jangan bilang cewek itu?”
Jono tersenyum manis lalu melenggang pergi meninggalkan Tata yang masih berkutat dengan seribu tanda tanya atas pernyataan cowok itu barusan….[end]

Selasa, 05 Agustus 2014

Waiting For You



Di sebuah bangku taman, tepatnya di bawah pohon Sakura. Sora duduk dalam diam. Wajahnya menengadah ke langit dan matanya dibiarkan terpejam, seakan menantang bulir-bulir salju turun dan menampar-nampar pipinya hingga rasa sakit itu hilang tanpa bekas.
“Park Seo Joon,” panggil Sora lemah. Bibirnya yang merah terlihat pucat. Saat ini angin berderu kencang dan salju turun semakin deras. Jaket yang dikenakannya pun tak mampu menghalau rasa dingin yang menusuk ke dalam tulang-tulang sendi.
Sejak tiga jam lalu Sora duduk sendiri, menunggu lelaki yang tak kunjung datang. Dan kini pertahanan tubuhnya mulai goyah. Ia menggigil dan kepalanya terasa berat. Sayup-sayup terdengar langkah kaki mendekat.
“Agashi,” seorang lelaki paruh baya datang menghampirinya. “Sedang apa kau di cuaca dingin seperti ini?”
Sora membuka mata. Senyuman yang sempat tercetak di bibirnya memudar seiring kenyataan bahwa bukan Park Seo Joon yang ada di depannya sekarang. “Saya sedang menunggu seseorang,” Jawab Sora.
“Wajah agashi terlihat pucat, sebaiknya pulang saja. Cuaca di luar sangat dingin dan sebentar lagi mulai gelap.”
Ahjushi tak perlu khawatir, sebentar lagi saya akan pulang.” Sora tersenyum pahit. Selama apapun ia menunggu Park Seo Joon, lelaki itu tak akan pernah datang menemuinya seperti musim dingin tahun lalu. Saat lelaki itu pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Blue Safir



"Ari lo apa-apan, seh. Gangguin gue aja tau!" orang yang bersangkutan hanya tersenyum simpul. Ari dan Rossa adalah anak kelas 12 IPA-3 yang sedang berkunjung ke museum bersama teman-teman sekelasnya. Sedari tadi Ari terus-terusan membuntuti dan mengganggu Rossa Amalia, yang akrab dipanggil Ocha. Rambut ikal Ocha yang berwarna cokelat dengan panjang sepinggul terus ditarik-tarik Ari hingga membuat yang lain memperhatikan mereka tak kecuali Rendy sang ketua kelas yang terkenal disiplin dan cuek pada perempuan.
Rendy menoleh, "Kalian berdua bisa diam enggak? Tolong jangan ganggu yang lain,” ucap Rendy tajam ke arah Ocha. Bola matanya yang berwarna hitam terlihat mengkilap menahan kesal.
"Lo kok malah liatin gue, seh. Tuh Ari yang mulai duluan bukan gue," dengus Ocha kesal.
"Tapi elo kan yang tadi ngomongnya keras banget," balas Rendy tak mau kalah.
"Loh kenapa malah gue yang disalahkan?" Ocha tak mau disalahkan.
"Sudah.. sudah…. kok malah kalian yang berantem. Yuk lanjutin liat-liatnya." Marisa sang bendahara Osis menengahi pertengkaran yang sebentar lagi pecah.
Ocha benar-benar kesal disalahkan Rendy. Padahal jelas-jelas Ari yang mengganggunya. Mulutnya dimonyongkan ke depan. Ia mencibir ke arah Rendy. Pipinya merah menahan amarah yang sejak tadi ingin tumpah. Rendy hanya tersenyum simpul melihat Ocha mencibirnya.
*****
Ocha terus berjalan tanpa memperdulikan di sekitarnya. Tak terasa ia telah terpisah dari rombongan. Ia tersesat. Tiba-tiba saja lampu museum mendadak gelap. Ocha bergidik ngeri mendapati dirinya hanya seorang diri di sini. Seberkas cahaya terang mendekat ke arahnya. Ia gemetaran, jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mengucur di dahi dan pelipisnya. Tangannya yang basah meremas-remas ujung rok sekolah hingga kumal. Sesosok makhluk berbentuk boneka kelinci tengah menatap ke arahnya. Matanya yang besar memantulkan cahaya kemilauan.
"Ka..aam.uu makhluk apa?" tanya Ocha terbata-bata. Dengan susah payah suara keluar dari tenggorokannya.
Makhluk itu mendekat. Ia memengang tangan Ocha. "Aku Take dari planet Mochi-mochi. Aku ke sini mau mengambil batu Blue Safir yang telah dicuri. Kau tak perlu takut padaku," ucap makhluk bernama Take.
Ternyata Batu Blue Safir yang ada di museum ini adalah batu pusaka dari planet Mochi-mochi. Sekarang seluruh planet sedang mengalami krisis cinta karena kehilangan kesaktian dari batu itu. Seluruh penghuni planet kini mulai saling membenci. Dan perang saudara pun akan segera pecah. Batu itu harus segera dikembalikan ke asalnya agar perdamaian dan cinta tetap terjaga. Namun, karena lama di bumi kekuatan batu itu melemah. Sehingga perlu mendapatkan kekuatan baru untuk memulihkan kekuatannya.
Ocha bengong. Ia kemudian menunduk dan duduk di lantai persis di hadapan Take. "Terus bagaimana caranya agar batu ini memiliki kekuatannya kembali?" tanya Ocha penasaran. Keningnya berkerut memikirkan hal yang begitu mustahil. Ia masih tak percaya.
"Cinta tulus dari seseorang yang mencintai yang dapat mengembalikan kekuatannya. Tetapi mereka harus bersama-sama memegang batu ini." Take berjalan ke arah batu Blue Safir. Ia mengambil batu itu dan meletakkannya di pangkuan Ocha.
Ocha bingung harus melakukan apa. Ia hanya mengamati batu itu tanpa berbuat apa-apa hingga terdengar derap langkah sepatu seseorang yang bergesekan dengan lantai mendekat ke arahnya. Karena gelap ia pun tak dapat melihat siapa yang mendekat. Tangan yang panjang dan gelap menjulur dan memegang bahunya. Sontak saja Ocha kaget dan berteriak.
"Aaargghh!!!" jerit Ocha histeris.
"Bisa enggak lo jangan teriak-teriak gitu. Bikin gue pusing tau dengarnya," suara laki-laki yang sangat dikenalnya membuat hatinya lega. Ia menatap laki-laki yang ada di belakangnya. Gelap, hanya terlihat sorot matanya yang terang dan begitu meneduhkan. “Lo kemana aja yang lain pada khawatir nyariin loe."
"Gue nyasar dan ketemu sama Take," jawab Ocha menunjuk ke arah Take yang tengah memperhatikan mereka. Tentu saja karena gelap Rendy tak melihat arah telunjuk Ocha.
"Cinta yang tulus," gumam Take. Membuat keduanya memandang Take.
Rendy terkejut melihat makhluk yang mendekatinya ia pun berkata, "Siapa kamu?"
Take tersenyum simpul dan menjelaskan semuanya pada Rendy. Rendy hanya mangut-mangut tak begitu yakin apa yang dengarnya, namun ia berusaha tuk percaya.
"Bagaimana mau kah kalian membantuku?" tanya Take sekali lagi.
Mereka berdua hanya bengong. Rendy mendekat ke arah Ocha. Ia memandang gadis itu tak berkedip. Mata mereka bertemu beberapa saat, kemudian mengangguk pada saat yang bersamaan. Rendy meraih tangan Ocha yang tengah memegang Blue Safir. Kini tangan Ocha berada dalam genggaman tangan Rendy. Entah mengapa jantung mereka berdua berdebar lebih kencang menabuhkan benih-benih cinta.
Take hanya tersenyum, ia kemudian membaca beberapa mantra yang tak dimengerti oleh mereka berdua. Cahaya yang bersinar indah memancar dari sela-sela telapak tangan mereka yang berasal dari Blue Safir. Cahaya birunya sangat indah. Pantas saja disebut batu cinta karena orang yang melihatnya akan jatuh cinta. Mereka bertiga tersenyum dalam gelap. Sampai saat ini lampu musem belum menyala juga.
Take mengambil Blue Safir yang ada di genggaman Ocha, "Terima kasih kalian telah membantuku. Hanya cinta yang tuluslah yang mampu memberikan kekuatan. Baiklah aku akan pulang sekarang. Orang-orang di sana sedang membutuhkanku." Take mengepakkan jubahnya, lalu ia terbang ke atas dan menghilang ditelan kegelapan.
*****
"Ayo kita segera pergi! Yang lain pasti sedang menunggu kita." Rendy memapah Ocha dan membantunya berdiri.
"Terima kasih sudah menjemputku," ujar Ocha lirih. Rendy memandangnya sebentar kemudian menarik tangan Ocha agar berjalan di sampingnya. Selama menuju jalan keluar Rendy terus menggenggam tangan Ocha sambil menuntunnya berjalan. Genggaman tangan yang hangat membuat Ocha merasa nyaman dan terlindungi.
"Eh, Ren. Lo kenapa sih selalu marah-marah sama gue. Padahal kan Ari yang mulai duluan. Kenapa mesti gue?" tanya Ocha tiba-tiba. Rendy langsung menghentikan langkahnya. Ia melepaskan genggaman tangannya dan berbalik ke arah Ocha. Lalu memandangnya dengan lekat.
"Gue enggak senang loe diganggu cowok lain. Tapi gue enggak tau kenapa mesti marahnya ke elo," wajahnya memerah tapi tak nampak oleh Ocha karena gelap.
"Maksud lo, Ren?"
Rendy mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin sama seperti yang Take katakan,” ucapnya. Kemudian kembali menggenggam tangan Ocha sampai mereka berada di luar museum. Teman-teman mereka terlihat bahagia dan lega melihat Ocha dan Rendy datang dengan selamat. Mata mereka bertemu beberapa detik. Mungkin benar kata Take, ada perasaan cinta di antara mereka berdua namun tak mereka sadari. Entah sampai kapan mereka akan menyadari bahwa mereka berdua saling mencintai…………[]

 

Ngeblog Bareng Ochiey Published @ 2014 by Ipietoon