"Ari lo apa-apan, seh. Gangguin gue aja tau!" orang
yang bersangkutan hanya tersenyum simpul. Ari dan Rossa adalah anak kelas 12
IPA-3 yang sedang berkunjung ke museum bersama teman-teman sekelasnya. Sedari
tadi Ari terus-terusan membuntuti dan mengganggu Rossa Amalia, yang akrab
dipanggil Ocha. Rambut ikal Ocha yang berwarna cokelat dengan panjang sepinggul
terus ditarik-tarik Ari hingga membuat yang lain memperhatikan mereka tak
kecuali Rendy sang ketua kelas yang terkenal disiplin dan cuek pada perempuan.
Rendy menoleh, "Kalian berdua bisa diam enggak? Tolong
jangan ganggu yang lain,” ucap Rendy tajam ke arah Ocha. Bola matanya yang
berwarna hitam terlihat mengkilap menahan kesal.
"Lo kok malah liatin gue, seh. Tuh Ari yang mulai duluan
bukan gue," dengus Ocha kesal.
"Tapi elo kan yang tadi ngomongnya keras banget," balas
Rendy tak mau kalah.
"Loh kenapa malah gue yang disalahkan?" Ocha tak
mau disalahkan.
"Sudah.. sudah…. kok malah kalian yang berantem. Yuk
lanjutin liat-liatnya." Marisa sang bendahara Osis menengahi pertengkaran
yang sebentar lagi pecah.
Ocha benar-benar kesal disalahkan Rendy. Padahal jelas-jelas
Ari yang mengganggunya. Mulutnya dimonyongkan ke depan. Ia mencibir ke arah
Rendy. Pipinya merah menahan amarah yang sejak tadi ingin tumpah. Rendy hanya
tersenyum simpul melihat Ocha mencibirnya.
*****
Ocha terus berjalan tanpa memperdulikan di sekitarnya. Tak
terasa ia telah terpisah dari rombongan. Ia tersesat. Tiba-tiba saja lampu
museum mendadak gelap. Ocha bergidik ngeri mendapati dirinya hanya seorang diri
di sini. Seberkas cahaya terang mendekat ke arahnya. Ia gemetaran, jantungnya
berdegup kencang. Keringat dingin mengucur di dahi dan pelipisnya. Tangannya
yang basah meremas-remas ujung rok sekolah hingga kumal. Sesosok makhluk
berbentuk boneka kelinci tengah menatap ke arahnya. Matanya yang besar
memantulkan cahaya kemilauan.
"Ka..aam.uu makhluk apa?" tanya Ocha terbata-bata.
Dengan susah payah suara keluar dari tenggorokannya.
Makhluk itu mendekat. Ia memengang tangan Ocha. "Aku
Take dari planet Mochi-mochi. Aku ke sini mau mengambil batu Blue Safir yang
telah dicuri. Kau tak perlu takut padaku," ucap makhluk bernama Take.
Ternyata Batu Blue Safir yang ada di museum ini adalah batu
pusaka dari planet Mochi-mochi. Sekarang seluruh planet sedang mengalami krisis
cinta karena kehilangan kesaktian dari batu itu. Seluruh penghuni planet kini
mulai saling membenci. Dan perang saudara pun akan segera pecah. Batu itu harus
segera dikembalikan ke asalnya agar perdamaian dan cinta tetap terjaga. Namun,
karena lama di bumi kekuatan batu itu melemah. Sehingga perlu mendapatkan
kekuatan baru untuk memulihkan kekuatannya.
Ocha bengong. Ia kemudian menunduk dan duduk di lantai persis
di hadapan Take. "Terus bagaimana caranya agar batu ini memiliki
kekuatannya kembali?" tanya Ocha penasaran. Keningnya berkerut memikirkan
hal yang begitu mustahil. Ia masih tak percaya.
"Cinta tulus dari seseorang yang mencintai yang dapat
mengembalikan kekuatannya. Tetapi mereka harus bersama-sama memegang batu
ini." Take berjalan ke arah batu Blue Safir. Ia mengambil batu itu dan
meletakkannya di pangkuan Ocha.
Ocha bingung harus melakukan apa. Ia hanya mengamati batu itu
tanpa berbuat apa-apa hingga terdengar derap langkah sepatu seseorang yang
bergesekan dengan lantai mendekat ke arahnya. Karena gelap ia pun tak dapat
melihat siapa yang mendekat. Tangan yang panjang dan gelap menjulur dan
memegang bahunya. Sontak saja Ocha kaget dan berteriak.
"Aaargghh!!!" jerit Ocha histeris.
"Bisa enggak lo jangan teriak-teriak gitu. Bikin gue
pusing tau dengarnya," suara laki-laki yang sangat dikenalnya membuat
hatinya lega. Ia menatap laki-laki yang ada di belakangnya. Gelap, hanya
terlihat sorot matanya yang terang dan begitu meneduhkan. “Lo kemana aja yang
lain pada khawatir nyariin loe."
"Gue nyasar dan ketemu sama Take," jawab Ocha
menunjuk ke arah Take yang tengah memperhatikan mereka. Tentu saja karena gelap
Rendy tak melihat arah telunjuk Ocha.
"Cinta yang tulus," gumam Take. Membuat keduanya
memandang Take.
Rendy terkejut melihat makhluk yang mendekatinya ia pun
berkata, "Siapa kamu?"
Take tersenyum simpul dan menjelaskan semuanya pada Rendy.
Rendy hanya mangut-mangut tak begitu yakin apa yang dengarnya, namun ia
berusaha tuk percaya.
"Bagaimana mau kah kalian membantuku?" tanya Take
sekali lagi.
Mereka berdua hanya bengong. Rendy mendekat ke arah Ocha. Ia
memandang gadis itu tak berkedip. Mata mereka bertemu beberapa saat, kemudian
mengangguk pada saat yang bersamaan. Rendy meraih tangan Ocha yang tengah memegang
Blue Safir. Kini tangan Ocha berada dalam genggaman tangan Rendy. Entah mengapa
jantung mereka berdua berdebar lebih kencang menabuhkan benih-benih cinta.
Take hanya tersenyum, ia kemudian membaca beberapa mantra
yang tak dimengerti oleh mereka berdua. Cahaya yang bersinar indah memancar
dari sela-sela telapak tangan mereka yang berasal dari Blue Safir. Cahaya
birunya sangat indah. Pantas saja disebut batu cinta karena orang yang
melihatnya akan jatuh cinta. Mereka bertiga tersenyum dalam gelap. Sampai saat
ini lampu musem belum menyala juga.
Take mengambil Blue Safir yang ada di genggaman Ocha,
"Terima kasih kalian telah membantuku. Hanya cinta yang tuluslah yang
mampu memberikan kekuatan. Baiklah aku akan pulang sekarang. Orang-orang di
sana sedang membutuhkanku." Take mengepakkan jubahnya, lalu ia terbang ke
atas dan menghilang ditelan kegelapan.
*****
"Ayo kita segera pergi! Yang lain pasti sedang menunggu
kita." Rendy memapah Ocha dan membantunya berdiri.
"Terima kasih sudah menjemputku," ujar Ocha lirih.
Rendy memandangnya sebentar kemudian menarik tangan Ocha agar berjalan di
sampingnya. Selama menuju jalan keluar Rendy terus menggenggam tangan Ocha
sambil menuntunnya berjalan. Genggaman tangan yang hangat membuat Ocha merasa
nyaman dan terlindungi.
"Eh, Ren. Lo kenapa sih selalu marah-marah sama gue.
Padahal kan Ari yang mulai duluan. Kenapa mesti gue?" tanya Ocha
tiba-tiba. Rendy langsung menghentikan langkahnya. Ia melepaskan genggaman
tangannya dan berbalik ke arah Ocha. Lalu memandangnya dengan lekat.
"Gue enggak senang loe diganggu cowok lain. Tapi gue
enggak tau kenapa mesti marahnya ke elo," wajahnya memerah tapi tak nampak
oleh Ocha karena gelap.
"Maksud lo, Ren?"
Rendy mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin sama seperti
yang Take katakan,” ucapnya. Kemudian kembali menggenggam tangan Ocha sampai
mereka berada di luar museum. Teman-teman mereka terlihat bahagia dan lega
melihat Ocha dan Rendy datang dengan selamat. Mata mereka bertemu beberapa
detik. Mungkin benar kata Take, ada perasaan cinta di antara mereka berdua
namun tak mereka sadari. Entah sampai kapan mereka akan menyadari bahwa mereka
berdua saling mencintai…………[]