Sabtu, 02 Agustus 2014

Siluman Rubah



Gin berjalan menghampiriku dengan membawa dua gelas cola di tangannya. Ia baru saja kembali dari kantin membelikan pesananku. Aku duduk menunggunya di bangku taman di bawah naungan pohon palm besar. Disekeliling taman ditanami beberapa bunga penutup tanah, bunga mawar dan beberapa pohon besar. Di sudut bagian kiri terdapat lapangan sepak bola nan hijau.
"Nih say, cola-nya." Gin menyerahkan segelas cola kepadaku. Gin adalah kekasihku semenjak satu tahun lalu. Gin mempunyai sebuah rahasia yang tak diketahui orang lain kecuali aku. Ia adalah seekor siluman rubah yang pernah kutolong dari gucci kuno yang tersegel sebuah jimat.
"Lama amat sih. Gerah tau nunggunya," sungutku kesal. Peluh membanjiri pelipis mataku dan jatuh di sela-sela pipi membuat wajahku terasa lengket.
"Maaf ya, say. Kamu tau kan jam segini kantin lagi padat-padatnya." Gin menjelaskan padaku lalu ia melingkarkan tangannya di bahuku. Dekapannya terasa hangat menjalar ke dalam hatiku. Aku selalu senang bila ia mendekapku seperti ini. Marah yang tadi seakan menyala entah mengapa sekarang telah menguap pergi. Gin sangat perhatian dan romantis meskipun ia seekor silumah rubah, namun tak kalah dengan anak manusia. Pada awalnya aku memang seAkihag berantem dengannya namun karena perhatian dan sikapnya lama-lama sikapku yang dingin mencair.
*****
Seorang gadis cantik dengan tinggi badan 170 cm, rambut cokelat panjang dan hidung mancung tengah berjalan memasuki kelas bersama Bu Rika, wali kelas kami. Bu Rika memperkenalkan Akiha nama gadis itu sebagai murid baru di kelas kami.
"Perkenalkan namaku Akiha Fujiyama. Teman-teman bisa memanggilku Akiha. Aku kemari karena ingin menjemput tunanganku," ucapannya membuat seluruh kelas menjadi riuh. Semua mata memandang ke arahnya, tidak kecuali Gin. Ia juga memandang Akiha tanpa berkedip membuatku sedikit cemburu.
"Kamu Akiha, ya?" tiba-tiba Gin membuka suara. Aku tercengang. Bagaimana Gin bisa mengenal gadis itu. Gadis cantik yang membuat semua mata lelaki menatapnya.
"Gin! Aku datang menemuimu," teriak Akiha girang. Ia berlari menghampiri Gin dan memeluknya erat. Semua melongo melihat adegan mesra di depan mereka. Aku syok, lututku terasa lemas. Mataku mulai memanas dan dadaku terasa sesak. Ingin rasanya aku berlari ke luar kelas, namun tetap kutahan. Kupandangi wajah Gin meminta penjelasan, namun ia hanya tersenyum kikuk.
*****
"Tyara! Tolong dengar dulu penjelasanku dulu, donk. Kamu jangan ngambek dan salah paham gini. Aku jadi serba salah." Gin berjalan di sampingku di sepanjang koridor kelas.
Aku berhenti berjalan dan menatapnya lurus. "Salah paham bagaimana maksudmu. Jelas-jelas aku melihatmu berpelukan dengan gadis itu. Ooh bukan cuma aku saja tapi seluruh penghuni kelas," ralatku lalu kembali meneruskan langkahku.
"Akiha itu sama sepertiku. Ia juga siluman rubah. Tentang pertunangan itu hanya janji masa kecil yang sama sekali tak berarti. Tolong percayalah padaku." Gin menggengam tanganku. Ia memohon aku agar mengerti. Sorot matanya yang tajam membuatku luluh.
"Aa.ak.uu…"
"Gin!" tiba-tiba Akiha menghampiri kami dan menggandeng mesra tangan Gin. Aku terdiam tak melanjutkan kata-kataku. Aku menepis genggaman Gin dan berjalan cepat tanpa menghiraukan panggilan Gin.
"Kamu apa-apaan sih, Akiha. Kamu hanya bikin Tyara salah paham saja." Gin mendengus kesal. Ia berbalik meninggalkan Akiha dan berusaha mengejarku.
"Ooh… ternyata gadis itu yang membuatmu melupakan janji kita. Baiklah aku akan melakukan sesuatu agar kau kembali padaku." Akiha telah merencanakan sesuatu untuk Gin dan aku. Dan Kami tak tau apa yang sedang direncanakannya untuk memisahkan kami.
*****
Pagi itu kelas masih sepi hanya ada aku dan Akiha di dalam kelas. Ia berjalan menghampiriku dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang tengah terjadi di antara kami. Aku tersenyum mendengar penjelasannya. Seandainya aku jadi Akiha, aku juga pasti akan cemburu melihat tunanganku mencintai wanita lain. Akiha meminta maaf padaku dengan tulus. Ia bilang sudah menyerah soal Gin. Ia mengulurkan tangannya di hadapanku. Kusambut ulurannya dengan senang. Tiba-tiba tangannya memancarkan cahaya hitam dan membuat telapak tanganku menjadi panas. Pikiranku kosong, perasaanku menjadi tak menentu. Aku merasa payah dan frustasi. Rasanya tak ada kebahagian di hatiku.
"Bagaimana. Enggak enak bukan hidup seperti ini? Satu-satunya jalan menemukan kebahagian adalah bunuh diri," bisik Akiha di telingaku lalu ia pergi menjauh dariku dengan senyum kemenangan.
Aku mengangguk dan terpengaruh pada ucapan Akiha. Kemudian aku pergi ke luar kelas. Aku terus berjalan tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarku. Mataku menatap kosong ke depan. Aku berjalan menaiki atap sekolah. Tepat di atas gedung, aku berniat terjun ke bawah. Semua orang berteriak histeris melihatku. Tak terkecuali Gin. Ia langsung berlari secepat kilat menghampiriku. Ia menggenggam tanganku disaat-saat terakhir.
"Tyara, kamu apa-apaan, sih. Itu berbahaya tau." Gin menarikku dengan paksa.
"Lepaskan aku. Aku ingin mati!" teriakku histeris. Gin mengguncang-guncang bahuku agar sadar. Tetapi, aku terus meronta-ronta. Kutatap wajahnya dengan bengis. Sorot mataku yang hitam menyiratkan kebencian.
"Kamu dirasuki roh jahat. Siapa yang berani melakukan ini padamu," teriak Gin marah. Ia menatap lurus mataku, menggenggam bahuku kuat-kuat.
" Fire Worf,” sebuah api keluar dari telapak tangan Gin. 
“Pergilah kau wahai roh jahat yang bersemayam,” tubuhku meronta-ronta terbakar api. Sekelebat bayangan hitam yang keluar dari tubuhku juga ikut terbakar. Aku merasa lemas, lututku gemetaran merasakan sakit. Aku terduduk di lantai yang dingin. Gin memelukku erat memberikan rasa tenang.
"Kau tak apa-apa?" Gin membelai rambutku.
Aku menangis ketakutan. "Aku kenapa? Ada apa dengan diriku. Kenapa tiba-tiba merasa kesakitan."
"Maafkan aku tak bisa menjagamu. Siapa yang telah melakukan ini. Jangan-jangan Akiha yang melakukannya." Gin berdiri memapahku kembali ke kelas. Ia terlalu marah pada Akiha. Seluruh pelosok telah dicaAkihaya namun tak jua kunjung dapat.
"Aku tak menemukannya," ujar Gin ketika menghampiri mejaku.
"Nih!" kusodorkan sebuah kertas. "Dari Akiha," lanjutku.
Pelan-pelan dibukanya surat itu. Tertulis rapi sederet kalimat yang diperuntukkan bagi Gin.
Maafkan aku Gin telah berbuat jahat pada Tyara. Aku sangat cemburu padanya, tak pernah kulihat cinta yang begitu besar selama ini seperti cintamu pada Tyara. Aku hanya ingin memberi pelajaran buat Tyara agar menjauhimu, tetapi kekuatan roh jahat sangat besar sehingga aku tidak dapat mengontrolnya. Baiklah Gin aku menyerah, aku tak akan lagi mengganggu kalian, maafkan semua kesalahanku.
Akiha Fujiyama
Gin meremas surat itu lalu ia musnahkan surat itu menggunakan Fire Worf. Ia menghampiri dan memelukku.
"Sekarang kau aman. Aku akan selalu melindungimu dari apapun," janji Gin. Dan aku percaya ia akan selalu menjagaku seperti yang telah ia lakukan. Aku sangat mencintainya. Tidak akan kubiarkan sedikit pun keraguan akan perasaan Gin menggerogoti hatiku...[]


0 komentar:

Posting Komentar

 

Ngeblog Bareng Ochiey Published @ 2014 by Ipietoon