Gin berjalan menghampiriku dengan membawa dua gelas cola di tangannya. Ia
baru saja kembali dari kantin membelikan pesananku. Aku duduk menunggunya di
bangku taman di bawah naungan pohon palm besar. Disekeliling taman ditanami
beberapa bunga penutup tanah, bunga mawar dan beberapa pohon besar. Di sudut
bagian kiri terdapat lapangan sepak bola nan hijau.
"Nih say, cola-nya." Gin menyerahkan segelas cola kepadaku. Gin
adalah kekasihku semenjak satu tahun lalu. Gin mempunyai sebuah rahasia yang tak
diketahui orang lain kecuali aku. Ia adalah seekor siluman rubah yang pernah
kutolong dari gucci kuno yang tersegel sebuah jimat.
"Lama amat sih. Gerah tau nunggunya," sungutku kesal. Peluh
membanjiri pelipis mataku dan jatuh di sela-sela pipi membuat wajahku terasa
lengket.
"Maaf ya, say. Kamu tau kan
jam segini kantin lagi padat-padatnya." Gin menjelaskan padaku lalu ia melingkarkan
tangannya di bahuku. Dekapannya terasa hangat menjalar
ke dalam hatiku. Aku selalu senang bila ia mendekapku seperti ini. Marah yang
tadi seakan menyala entah mengapa sekarang telah menguap pergi. Gin sangat
perhatian dan romantis meskipun ia seekor silumah rubah, namun tak kalah dengan
anak manusia. Pada awalnya aku memang seAkihag berantem dengannya namun karena
perhatian dan sikapnya lama-lama sikapku yang dingin mencair.
*****
Seorang gadis cantik dengan tinggi badan 170
cm, rambut cokelat panjang dan hidung mancung tengah berjalan memasuki kelas
bersama Bu Rika, wali kelas kami. Bu Rika memperkenalkan Akiha nama gadis itu
sebagai murid baru di kelas kami.
"Perkenalkan namaku Akiha Fujiyama.
Teman-teman bisa memanggilku Akiha. Aku kemari karena ingin menjemput
tunanganku," ucapannya membuat seluruh kelas menjadi riuh. Semua mata
memandang ke arahnya, tidak kecuali Gin. Ia juga memandang Akiha tanpa berkedip
membuatku sedikit cemburu.
"Kamu Akiha, ya?" tiba-tiba Gin
membuka suara. Aku tercengang. Bagaimana Gin bisa mengenal gadis itu. Gadis
cantik yang membuat semua mata lelaki menatapnya.
"Gin! Aku datang menemuimu," teriak Akiha
girang. Ia berlari menghampiri Gin dan memeluknya erat. Semua melongo melihat
adegan mesra di depan mereka. Aku syok, lututku terasa lemas. Mataku mulai
memanas dan dadaku terasa sesak. Ingin rasanya aku berlari ke luar kelas, namun
tetap kutahan. Kupandangi wajah Gin meminta penjelasan, namun ia hanya
tersenyum kikuk.
*****
"Tyara! Tolong dengar dulu penjelasanku
dulu, donk. Kamu jangan ngambek dan salah paham gini. Aku jadi serba
salah." Gin berjalan di sampingku di sepanjang koridor kelas.
Aku berhenti berjalan dan menatapnya lurus.
"Salah paham bagaimana maksudmu. Jelas-jelas aku melihatmu berpelukan
dengan gadis itu. Ooh bukan cuma aku saja tapi seluruh penghuni kelas,"
ralatku lalu kembali meneruskan langkahku.
"Akiha itu sama sepertiku. Ia juga
siluman rubah. Tentang pertunangan itu hanya janji masa kecil yang sama sekali
tak berarti. Tolong percayalah padaku." Gin menggengam tanganku. Ia
memohon aku agar mengerti. Sorot matanya yang tajam membuatku luluh.
"Aa.ak.uu…"
"Gin!" tiba-tiba Akiha menghampiri
kami dan menggandeng mesra tangan Gin. Aku terdiam tak melanjutkan kata-kataku.
Aku menepis genggaman Gin dan berjalan cepat tanpa menghiraukan panggilan Gin.
"Kamu apa-apaan sih, Akiha. Kamu hanya
bikin Tyara salah paham saja." Gin mendengus kesal. Ia berbalik
meninggalkan Akiha dan berusaha mengejarku.
"Ooh… ternyata gadis itu yang membuatmu
melupakan janji kita. Baiklah aku akan melakukan sesuatu agar kau kembali
padaku." Akiha telah merencanakan sesuatu untuk Gin dan aku. Dan Kami tak
tau apa yang sedang direncanakannya untuk memisahkan kami.
*****
Pagi itu kelas masih sepi hanya ada aku dan Akiha
di dalam kelas. Ia berjalan menghampiriku dan menjelaskan semua kesalahpahaman
yang tengah terjadi di antara kami. Aku tersenyum mendengar penjelasannya.
Seandainya aku jadi Akiha, aku juga pasti akan cemburu melihat tunanganku
mencintai wanita lain. Akiha meminta maaf padaku dengan tulus. Ia bilang sudah
menyerah soal Gin. Ia mengulurkan tangannya di hadapanku. Kusambut ulurannya
dengan senang. Tiba-tiba tangannya memancarkan cahaya hitam dan membuat telapak
tanganku menjadi panas. Pikiranku kosong, perasaanku menjadi tak menentu. Aku
merasa payah dan frustasi. Rasanya tak ada kebahagian di hatiku.
"Bagaimana. Enggak enak bukan hidup
seperti ini? Satu-satunya jalan menemukan kebahagian adalah bunuh diri,"
bisik Akiha di telingaku lalu ia pergi menjauh dariku dengan senyum kemenangan.
Aku mengangguk dan terpengaruh pada ucapan Akiha.
Kemudian aku pergi ke luar kelas. Aku terus berjalan tanpa menghiraukan
orang-orang di sekitarku. Mataku menatap kosong ke depan. Aku berjalan menaiki
atap sekolah. Tepat di atas gedung, aku berniat terjun ke bawah. Semua orang
berteriak histeris melihatku. Tak terkecuali Gin. Ia langsung berlari secepat
kilat menghampiriku. Ia menggenggam tanganku disaat-saat terakhir.
"Tyara, kamu apa-apaan, sih. Itu
berbahaya tau." Gin menarikku dengan paksa.
"Lepaskan aku. Aku ingin mati!"
teriakku histeris. Gin mengguncang-guncang bahuku agar sadar. Tetapi, aku terus
meronta-ronta. Kutatap wajahnya dengan bengis. Sorot mataku yang hitam
menyiratkan kebencian.
"Kamu dirasuki roh jahat. Siapa yang
berani melakukan ini padamu," teriak Gin marah. Ia menatap lurus mataku,
menggenggam bahuku kuat-kuat.
" Fire Worf,” sebuah api keluar dari
telapak tangan Gin.
“Pergilah kau wahai roh jahat yang bersemayam,”
tubuhku meronta-ronta terbakar api. Sekelebat bayangan hitam yang keluar dari
tubuhku juga ikut terbakar. Aku merasa lemas, lututku gemetaran merasakan
sakit. Aku terduduk di lantai yang dingin. Gin memelukku erat memberikan rasa
tenang.
"Kau tak apa-apa?" Gin membelai
rambutku.
Aku menangis ketakutan. "Aku kenapa? Ada apa dengan diriku.
Kenapa tiba-tiba merasa kesakitan."
"Maafkan aku tak bisa menjagamu. Siapa
yang telah melakukan ini. Jangan-jangan Akiha yang melakukannya." Gin
berdiri memapahku kembali ke kelas. Ia terlalu marah pada Akiha. Seluruh
pelosok telah dicaAkihaya namun tak jua kunjung dapat.
"Aku tak menemukannya," ujar Gin
ketika menghampiri mejaku.
"Nih!" kusodorkan sebuah kertas.
"Dari Akiha," lanjutku.
Pelan-pelan dibukanya surat itu. Tertulis rapi
sederet kalimat yang diperuntukkan bagi Gin.
Maafkan aku Gin telah berbuat jahat pada Tyara.
Aku sangat cemburu padanya, tak pernah kulihat cinta yang begitu besar selama ini
seperti cintamu pada Tyara. Aku hanya ingin memberi pelajaran buat Tyara agar
menjauhimu, tetapi kekuatan roh jahat sangat besar sehingga aku tidak dapat
mengontrolnya. Baiklah Gin aku menyerah, aku tak akan lagi mengganggu kalian,
maafkan semua kesalahanku.
Akiha Fujiyama
Gin meremas surat itu lalu ia musnahkan surat
itu menggunakan Fire Worf. Ia menghampiri dan memelukku.
"Sekarang kau aman. Aku akan selalu
melindungimu dari apapun," janji Gin. Dan aku percaya ia akan selalu
menjagaku seperti yang telah ia lakukan. Aku sangat mencintainya. Tidak akan
kubiarkan sedikit pun keraguan akan perasaan Gin menggerogoti hatiku...[]
0 komentar:
Posting Komentar